Apa arti dari restorasi lamun?

Nama saya Gusti Ayu Made Mirah Rismayanti, seorang perempuan muda Bali dengan latar belakang ilmu kelautan dan ketertarikan mendalam pada pemetaan, konservasi, dan restorasi ekosistem pesisir. Perjalanan saya menuju dunia restorasi tidak lahir dari ruang akademik semata, melainkan dari lapangan menyaksikan secara langsung bagaimana perubahan lingkungan berdampak nyata pada kehidupan masyarakat pesisir.

Nama project ini adalah Nyawiang Segara yang berasal dari bahasa Bali untuk memberikan nyawa kepada laut. Kata Nyawiang berarti memberikan nyawa atau kehidupan kembali sesuatu yang sudah mati atau hilang. Kata Segara berarti laut. Dari kedua definisi tersebut maka Nyawiang Segara menjadi nama dan dasar filsafat yang memberikan nyawa dan semangat kepada saya dan tim. 

Saya bekerja bersama Bendega, sebuah organisasi yang dikenal melalui kerja kolaboratifnya dengan nelayan dalam merestorasi ekosistem mangrove di Bali. Dari proses tersebut, saya belajar bahwa ekosistem pesisir tidak pernah berdiri sendiri. Mangrove, lamun, dan terumbu karang saling terhubung dalam satu lanskap yang hidup sebuah ekoton yang menentukan kesehatan laut dan manusia. 

Tim Bendega setelah menyelesaikan kegiatan lapangan. Foto: Malkan Madani

Melalui Nyawiang Segara, saya bersama Bendega mulai menggarap restorasi lamun di Pantai Mertasari, Indonesia. Berbeda dengan mangrove, lamun adalah wilayah pembelajaran baru bagi kami. Karena itu, pendekatan yang kami lakukan masih berada pada tahap pilot testing mencoba, belajar, mengevaluasi, dan menyempurnakan metode restorasi yang sesuai dengan konteks lokal Bali. Bagi kami, Nyawiang Segara bukan sekadar proyek, melainkan ruang belajar bersama antara sains, pengalaman lapangan, dan pengetahuan lokal.

Saya ingin dunia lebih mengenal dan menghargai lamun. Lamun adalah ekosistem krusial yang sering luput dari perhatian. Ia berfungsi sebagai penyangga gelombang, pengatur nutrien dan sedimentasi, penyerap karbon dalam jumlah besar, serta habitat pemijahan dan pembesaran ikan serta biota laut yang kita konsumsi sehari-hari. Artinya, lamun sangat penting perannya bagi kita semua sebagai hutan bawah air yang memiliki produktivitas tinggi. 

Konteks sosial dan ekologis di lokasi kami bekerja sangatlah kompleks. Degradasi lamun terjadi akibat tekanan aktivitas manusia. Wisata, tambat labuh kapal, sampah, dan pembangunan dermaga & jetty. Pada saat yang sama, nelayan menghadapi realitas berkurangnya hasil tangkapan, menurunnya regenerasi nelayan muda, serta meningkatnya risiko bencana pesisir. Kami melihat langsung bagaimana rusaknya alam memperburuk kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, sementara minimnya dukungan struktural semakin memperpanjang siklus degradasi tersebut.

Inilah yang memotivasi saya dan tim Bendega untuk terus bergerak. Kami percaya bahwa memulihkan alam berarti memulihkan manusia, dan nelayan memiliki peran kunci dalam hubungan ini. Dengan Nyawiang Segara, nelayan tidak kami lihat sebagai penerima manfaat semata, tetapi sebagai aktor utama restorasi. Mereka adalah penjaga laut yang paling memahami dinamika pesisir tempat mereka hidup.

Transplantasi 100 lamun berjenis Enhalus acoroides di Pantai Mertasari. Foto: Loka Riset Perikanan Tuna

Kegiatan restorasi lamun dalam Nyawiang Segara melibatkan nelayan dan komunitas lokal secara langsung melalui penanaman, pemantauan, dan proses pembelajaran bersama. Kami juga berupaya membangun skema insentif, di mana restorasi menjadi sumber mata pencaharian tambahan nelayan memperoleh upah untuk melakukan restorasi dan pengadaan bibit. Langkah ini menjadi penting untuk menggeser siklus degradasi menuju siklus regenerasi, di mana menjaga alam juga berarti menjaga keberlangsungan hidup.

Kondisi rumput laut satu minggu setelah penanaman, menunjukkan bahwa rumput laut tetap tegak dan terus bertahan hidup. Foto: Ronaldo Damar

Melalui Nyawiang Segara, saya berharap semakin banyak orang, terutama generasi muda, berani memulai langkah restorasi di lanskap mereka masing-masing. Restorasi yang dipimpin pemuda penting karena kami akan hidup paling lama dengan dampak perubahan iklim. Kami membawa perspektif baru, keberanian bereksperimen, dan semangat untuk membangun hubungan manusia–alam yang lebih adil dan berkelanjutan.

Perubahan tidak harus dimulai dari proyek besar. Ia bisa dimulai dari satu pantai, satu komunitas, dan satu keberanian untuk mencoba. Jika cerita Nyawiang Segara dapat menginspirasi orang lain untuk merawat lautnya sendiri, maka langkah kecil ini telah memberi makna yang jauh lebih besar.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x